Pembahasan kerjasama Pertamina dan Eni untuk kilang bahan bakar dari CPO di Plaju Sumatra Selatan

#70yearsIndonesiaItaly #70tahunIndonesiaItaliaKerja sama Indonesia – Italia untuk energi ramah lingkungan. #pertamina #eniLiputan metrotv – Rieska Wulandari

Dikirim oleh KBRI ROMA – Ambasciata – Embassy of Indonesia pada Kamis, 31 Januari 2019

Palm Oil Plantation: The Most Land-Efficient Vegetable Oil “Factory”

“Palm oil plantations are the most land-efficient vegetable oil producer in the world.”

The world is getting crowded. The needs for housing, school buildings, offices, shopping centers and others continue to increase both in developing countries and in developed countries. Meanwhile the need for agricultural / plantation production continues to increase due to the increase in population and economic development. The needs for vegetable oils, for example, continues to increase both for food, industrial raw materials (soap, shampoo, detergent, cosmetics, pharmaceuticals, etc.), and for biofuels. For this reason, the world community needs to choose a vegetable oil producer that is efficient in the land using, which means that vegetable oil needs can be fulfilled with relatively narrow land.

According to data in 2013, the area of ​​four major vegetable oil producing plants, namely oil palm, soybean, sunflower and rapeseed is around 191 million hectares. Of the four main vegetable oils, soybean oil is the highest ranking of the largest plantation in term of land use, then followed by rapeseed, sunflower and then palm.

The area of ​​soybean plantations is around 110 million hectares or 58 percent of the area of ​​the four world vegetable oil producing plants. With an area of ​​around 58 percent, soybean plantations only produce oil of 47 million tons (31 percent) of the production of the four world’s major vegetable oils. In contrast to oil palm plantations which only have an area of ​​around 19 million hectares or approximately 10 percent, they are capable of producing 62 million tons of soybean oil or 41 percent of the production of the four world’s major vegetable oils.

The high amount of palm oil production can be achieved due to the oil productivity of oil palm plantations which is much higher than the productivity of oil from other vegetable oil producing plants. The productivity of palm oil per hectare is much higher (8-10 times) than the productivity of other vegetable oils. So, with less land, oil palm is able to produce more vegetable oil.

Palm oil productivity per hectare is the highest, causing the share of palm oil in the production of the four world’s major vegetable oils to increase rapidly from 22 percent (1965) to 41 percent (2014). Even though the planted area only increased from 3.6 million hectares (1965) to 17 million hectares (2014); try to compare that with the area of ​​soybean plantations which increased from 25 million to 111 million hectares in the same period.

Thus, it is clear that palm oil is the most efficient vegetable oil in term of land use. Oil palm plantations are the solution to meet the increasing need for world vegetable oil in the face of narrowing land in the future.

source: indonesiakita.or.id

Bahan Bakar Ramah Lingkungan dari Sawit, Sebuah Keharusan!

Pemerintah melalui PT Pertamina (Persero) tengah mengembangkan bahan bakar minyak (BBM) yang lebih ramah terhadap lingkungan. Menghasilkan bahan bakar yang ramah terhadap lingkungan, menurut Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan, sudah menjadi kewajiban sebagai warga dunia dan tanggung jawab sebagai anak bangsa.

“Kemajuan atau pertumbuhan ekonomi bangsa ini, jika sebesar 5% saja per tahun, bila tidak memulai membuat bahan bakar yang ramah lingkungan, maka 25 tahun lagi polusinya akan sangat buruk,” ujar Jonan, di Kompleks Kilang Plaju, Palembang, dalam keterangan resmi kepada InfoSAWIT, belum lama ini.

Saat ini Pertamina saat ini sedang mengembangkan BBM yang lebih ramah lingkungan. Jonan berharap, selain dapat menghasilkan BBM yang ramah lingkungan, juga 100% menggunakan bahan baku dari renewable energy. “Harapannya, minyak diesel yang dihasilkan Pertamina tersebut akan berasal dari renewable energy sehingga tingkat polusi yang dihasilkan akan rendah,” tutur Jonan.

Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Nicke Widyawati mengatakan, Pertamina saat ini sedang mengembangkan BBM berbasis sawit yang ramah lingkungan. Pengembangan BBM tersebut dilakukan, selain blending FAME, juga dengan co-processing dan hydrorefining.

“Co-processing dan hydrorefining tersebut akan menghasilkan energi yang lebih bersih jika dibandingnkan dengan FAME yang hari ini kita hasilkan. Opsi-opsi pengembangan energi bersih melalui proses hydrorefining tersebut merupakan sepenuhnya hasil karya anak bangsa hasil kerjasama dengan LAPI-ITB dengan nama katalisnya, katalis Merah-Putih,” ujar Nicke.

Nicke menambahkan, pengembangan bahan bakar ramah lingkungan ini secara bertahap sedang dikerjakan di beberapa kilang Pertamina dan diharapkan sebelum tahun 2023 sudah dapat diimplementasikan di empat kilang milik Pertamina yang memiliki Residual Fuel Catalytic Cracking (RFCC) dan pada saatnya nanti akan menghasilkan green diesel, green avtur dan green fuel.

Pengembangan BBM berbasis sawit, selain lebih ramah lingkungan dan sedikit menghasilkan polusi, tentunya juga akan dapat meningkatkan nilai tambah dari sawit itu sendiri dan mengurangi impor minyak mentah.

sumber: infosawit.com

Perkembangan Kelapa Sawit di Indonesia Didukung Oleh Kesesuaian Lahan

Indonesia mungkin dikenal sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia, namun faktanya tanaman kelapa sawit bukanlah tanaman asli dari Indonesia. Tanaman kelapa sawit berasal dari kawasan Afrika dan masuk ke Indonesia pada zaman kolonial Belanda saat empat benih kelapa sawit dibawa oleh Dr. D. T. Pryce pada tahun 1848 untuk dijadikan sebagai tumbuhan koleksi Kebun Raya Bogor. Benih ini terdiri atas 2 benih dari Bourbon-Mauritius dan 2 benih dari Amsterdam yang berjenis Dura. Kemudian biji kelapa sawit ini disebarkan ke berbagai daerah baik di Pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara, Maluku, untuk dijadikan sebagai tanaman hias (ornamental) sekaligus sebagai percobaan “uji lokasi“.

Hasil percobaan uji lokasi yang dilakukan di Deli pada tahun 1878 menunjukkan hasil produksi yang baik sehingga mendorong tumbuhnya perkebunan kelapa sawit. Perkebunan kelapa sawit komersial pertama di Indonesia terbentuk pada tahun 1911 di Pulau Raja (Asahan) dan Sungai Liput (Aceh) yang dimiliki oleh perusahaan Belgia. Oleh sebab itu, tahun 1911 dianggap sebagai awal dari perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Selain perusahaan Belgia, terdapat pula perusahaan Jerman yang membuka usaha perkebunan kelapa sawit di Tanah Itam Ulu pada tahun yang sama. Kemudian perkebunan kelapa sawit di Indonesia terus berkembang hingga Indonesia merdeka dan menjadi produsen terbesar minyak sawit dunia saat ini.

Perkembangan perkebunan kelapa sawit yang saat ini tersebar di 25 Provinsi di Indonesia tidak terlepas dari kondisi lahan dan iklim Indonesia yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman kelapa sawit. Lahan pertanian di Indonesia memiliki karakteristik yang berbeda sehingga dapat dikelompokkan berdasarkan tingkat kesesuaiannya untuk budidaya kelapa sawit (lahan S1, S2, dan S3). Lahan mineral ini diklasifikasikan berdasarkan faktor pembatas seperti curah hujan, bulan kering, elevasi, kemiringan, tekstur tanah, kelas drainase, dan kemasaman tanah. Dan Indonesia memiliki lahan mineral dengan karakteristik yang sangat sesuai untuk perkebunan kelapa sawit dengan indikator curah hujan 1750-3000 mm, bulan kering <1 bulan, elevasi 0-200 m, kemiringan <8%, tekstur tanah lempung berdebu, lempung liat berpasir, dan dengan kemasaman tanah (pH) 5,0-6,0.

Selain lahan mineral, Indonesia juga memanfaatkan lahan gambut untuk budidaya kelapa sawit. Meskipun banyak pihak yang menganggap hal ini sebagai bentuk pengrusakan alam, namun proses budidaya kelapa sawit dapat dilakukan dengan baik pada lahan gambut fungsi budidaya yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman kelapa sawit. Salah satu contoh pemanfaatan lahan gambut untuk perkebunan kelapa sawit di Indonesia yaitu eksistensi perkebunan kelapa sawit di Negeri Lama, Sumatera Utara mulai tahun 1927 yang luas awalnya  1.302 hektar. Perkebunan ini telah mengalami tiga kali proses peremajaan (replanting) yaitu pada tahun 1968, 1989, dan 2012. Produktivitas kebun sawit gambut ini meningkat pada setiap generasinya yaitu 17 ton TBS/hektar/tahun pada generasi I, 19,7 ton TBS/hektar/tahun pada generasi II, dan 23,9 ton TBS/hektar/tahun pada generasi III. Hal ini menjadi bukti bahwa Indonesia memiliki lahan yang sesuai untuk pertumbuhan kelapa sawit baik lahan mineral maupun lahan gambut.

sumber: sawit.or.id

EU imports Used Cooking Oil record

“The EU imported record levels of used cooking oil (Uco) and biodiesel made from Uco (Ucome) in August, as appetite from European blenders and distributors showed no sign of slowing.”

 

UCO imports were above 50,000t, up from 10,000t a year earlier, and were more than 235,000t in the first eight months of last year — up from just 20,000t in the same period a year earlier and over four times the 56,000t imported in all of 2017, according to customs data (see chart).

The Netherlands took a record 30,000t in August, and Spain took 15,000t. Around 145,000t of UCO arrived in the Netherlands in January-August — before January no cargoes of any scale unloaded there. Spain received 70,000t.

Demand from Spanish producers — 140,000 t/yr Biocom Energia and 100,000 t/yr BioArag — could increase if, as is likely, Spain begins double-counting biodiesel made from waste oils against state mandates in the first quarter of 2019.

Volumes of UCO needed in Spain could jump next year — the 85,000 t/yr Linares Biodiesel facility in the south of the country has begun production of Ucome, after several years idle. Spain’s dominant palm oil biodiesel (PME) producer, the 1.1mn t/yr Musim Mas, is considering converting its 200,000 t/yr plant at Cartagena to run waste oils and fats in 2019.

Some concerns from traders and brokers over variable levels of sulphur and nitrogen in Chinese imports do not appear to be dampening demand.

The highest level of Chinese Ucome cargoes yet recorded arrived in the EU in August. Close to 40,000t was delivered, all to the Netherlands, up from 15,000t in July and just ahead of the previous record in May.

Chinese Ucome export volumes to the EU have been erratic last year. Larger cargoes were moved in February, May and August, but only 300t in April. Volumes were up by 52pc year on year, at 170,000t, in the first eight months of the year.

Many factors are influencing the amount of Chinese exports to Europe. Volumes are highly dependent on freight costs and seasonal conditions. Shipments of biodiesel from Argentina, made from soya oil (SME), have washed across Europe this year, cutting some demand for Chinese Ucome. Large quantities of PME have arrived in the EU from Indonesia. While Europe remains well supplied with biodiesel, demand for Chinese Ucome will fluctuate. There have also been some concerns from European customers over free fatty-acid levels in Chinese Ucome rising above EU standards.

China also has a growing internal market for biodiesel. Domestic producers could be encouraged to save supply to sate internal demand if forward prices decline in the Amsterdam-Rotterdam-Antwerp (ARA) region.

Chinese UCO and Ucome exports to EU ‘000t

source: www.argusmedia.com